Tuan
Sepertinya tuan sibuk mengunyah
Dengan geram geraham dan kami cuma mampu bergumam ;
Sejenak palingkan mukamu pada muram senyum kami
pada lengking jerit bayi kami, tiap penyesalan akan dilahirkan
di sini
di sore yang beranjak hilang
Terbayang seribu lima ratus triliun janji yang musti terbayar
tentang bayi,
Puting siapa bisa dikalengkan?
Tiap malam, tiap perjalanan terjal pada ini negeri
dan sontak tangis langit biaskan arah kaki kami melangkah
Tak ada kardus untuk berteduh, sudah basah
oleh darah
: merah, hitam, dan jingga
Atau mereka yang relakan depan tokonya sekadar bersandar
Sementara idiom yang tuan ciptakan, lahirkan kepalsuan
Dusta kemarin lusa,
Beras saja tuan
Cuma ocehan, kami kenyang
Kalau ada seragam tuan,
Tak tega hamba dapati si Buyung mengintip jendela kelas
tiap pagi, esok juga masih pagi
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar