Jumat, 10 Juni 2011

rapat garis tangannya

Hampir saja aku lupa pada komitmenku yang tak akan lagi mengusik ketentramanmu. Kubatalkan khayalanku untuk berbincang, bersama-sama tertawa seperti biasa, setelah sepersekian detik bunyi tut,... Sebuah penanda; bahwa nomor teleponmu masih aktif, hidupmu lebih nyaman dan yang pasti tak lagi merinduku.
Hampir saja aku alpa pada janji itu, pada lupa yang mampu membunuh nalar lelakiku. Dalam hitungan detik yang sama, terngiang diksi-diksi yang tak mudah keluar dari bibirmu, seperti bom waktu yang mampu meledak setiap saat. Tombol merah ponsel yang kutekan berkali-kali, membunuh paksa alur rindu. Memperkosa ingatan-ingatan yang bersembunyi di sudut ruang yang gelap. Aku adalah merpati dengan rantai di kaki dan hati. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menanti, hal yang mungkin telah menjadi tak mungkin.
“Tak terhitung jari kuharap kau kembali, Sri,” gumamku kala sendiri di balik semua tawa. Dialah Sri, gadis yang pernah membuka pintu katresnannya untukku setelah empat tahun tanpa sebaris nama di hatinya.
Berawal dari sebuah pertemuan di kios fotokopi. Sangat sedehana.
”Sri,... Sampean?” tanyanya, sambil menjulurkan tangan bak tunas kacang yang tumbuh menjulang ke langit-langit kesadaraanku.
Mahluk apa kiranya yang datang menghampiriku, batinku, seraya menyapu pikiran linglung karena terlalu lama menunggu seorang kawan yang sedang mengkopi hand out kami. Rupa-rupanya dia mendekat padaku, karena tunjuk kawanku tadi kearahku, setelah mereka berbincang cukup lama. Terlalu lama agaknya aku memikirkan apa dan siapa sebenarnya dia, hingga terbata-bata ketika aku menyebutkan namaku. Kurenggut jemarinya yang ramah.
“Tahoe.”
“Masa Tahoe? Aku panggil Mas Tahoe, begitu?” sahutnya cepat.
Aku hanya tersenyum, seolah menunjukkan wibawa yang sebenarnya tak kumiliki. Sayang benar rasanya untuk melepaskan genggamannya yang hangat dengan garis-garis tangannya yang rapat. Semakin kuselami parasnya yang elok, semakin dalam tanganku mencengkram. Kupadukan gelora muda yang sudah lama kupendam. Semakin bisu pula aku, karena sejuta pertanyaanku telah tergantikan oleh pandangannya yang tulus dan garis-garis tangan yang semakin rapat terasa. Aku yang tak sedang berlogika, fantasiku terbebas kala itu.
“Mas,…”
Aku tersentak, kulepaskan tangannya.
Mulai hadir rasa nyaman untuk saling lontarkan pertanyaan tentang masing-masing. Beberapa perbincangan kecil mewarnai awal pertemuanku dengannya malam itu.
Tak lain karena penyesalan dan tiap-tiap sudut ruang gelap ini yang senantiasa meludahiku, memperolokku. Hingga kuhamtam berkali-kali dengan tinjuku setiap hal yang tak kooperatif, termasuk tembok berengsek tahadi. Ya, labil memang emosiku, otak kerdilku dan terserah kau mau ucapkan apapun tentang itu. Saat ini, yang kubutuhkan hanyalah mengingat, mencatat setiap hal temanis tentang kami, tawa renyahnya, rapat garis tangannya.
“Bukankah belum terlambat jika kau utarakan pikiran bodoh yang tiap detik kau anggap masalah itu padanaya?” kawanku yang juga bodoh karna telah mempertemukanku dengannya itu mulai angkat bicara. Jr, biasa kusebut dia.
“Daripada kau hanya membual dan menceritakan hal yang sama bodohnya denganmu di tiap harinya padaku.”
“Mati saja, kau!!!” serentak kusahut dengan kondisi yang setengah waras.
Tak ayal orang akan pergi dariku setelah menyelami dangkalnya danau fikirku. Bukan hal yang aneh kalau Sri bakal kecewa setelah tahu siapa dan bagaimana aku. Kenapa harus kutinggalkan dia hanya karena ego meraja!? Kenapa harus kululuhlantahkan semua hasil jungkir balik untuk memenangkan hati seorang bidadari kemarin!?
Bukan waktu atau semacamnya yang membimbing langkah kami. Kami berjalan hanya dengan mengandalkan temaramnya hati. Pikiran-pikiran skeptis muncul pada awal aku mulai merasa nyaman berada di dekatnya, merasakan degup jantungnya, dan tentu saja rapat garis-garis tangannya. Aku rasa Sri juga merasakan hal yang sama, apa iya?. Apakah ini akan menjadi sebuah pertautan hasrat yang haibat, apa hanya akan bla bla bla…tak tentram kalbuku.
Kutenggak satu botol kesegaran di akhir malam itu. Kurasakan kalut di setiap detik-detik ingatanku padanya. Semakin tak waras nalarku menjadi-jadi, kusahut ponsel dan tanpa pikir panjang kulayangkan pesan singkat padanya. Terucap sudah hal terasa lama sekali menjadi momok di benakku. Mengklimaks saat itu, kala bulan dan mahluk-mahkuk malam tak berpihak padaku. Jawaban yang juga ragu-ragu kudapatkan ;
“Aku butuh waktu untuk memikirkannya matang-matang Mas.”
Seolah ia serahkan semuanya pada waktu yang sedari awal tak memberi kontribusi apapun pada kami.
Genap satu minggu penantian akan semua ketidak pastian ini. Tapi apa? NOL BESAR, tak kudapati jawaban yang kuharapkan. Sejenak aku membisu. Cuma retak sedikit, cuma retak, cuma retak, semalaman aku ucapkan hal yang sama semata menghibur gulana. Dasar aku yang tak sanggup terima keterpurukan. Sajak-sajak kuluapkan seiring merekahnya sinar dari ufuk timur.
“Coba tamatkan pikirmu! Cuma aku yang pantas untukmu. Kalau tak dapat kutemui kau tadi malam, izinkan ku nikmati sejenak indahmu pagi ini.”
“Sampean terlalu baik untukku,” ucapnya di hari di mana secara dramatis terbentuk jarak di antara kami. Pikirku: bahkan ia menganggap dirinya tak pantas untuk durjana sepertiku. Begitu hinakah hingga ironi keluar dari bibir sepahit madu?
“Sampean tak akan menjauh dariku kan? Hilang sudah satu sosok kakak dariku.” ucap Sri seolah menunjukkan wajah kecewa. Entah apa maksudnya.
“Aku bukan orang sepicik itu,” jawabku.
Mungkin lebih parah lagi, pada kenyataannya sempat kupalingkan pandangan darinya, mencoba mencari penawar dari semua yang terasa menggelikan ini. Seperti biasanya, tak mampu aku menahan hasrat ingin memeluk hati yang sudah meracuni sendi-sendiku. Celah-celah kecil kumasuki, perhatian dan sisa kasih yang memang masih utuh ini tetap kutujukan padanya. Tiap harinya kumanjakan dengan sajak pemujanya. Nampaknya keberadaanku mulai di terima dalam dunianya walaupun hanya sesekali ia tanggapi ocehanku. Apakah ia mulai membuka hatinya untuk mahluk sepertiku? Mungkin ia hanya sekadar menghiburku agar aku tak masuk telalu dalam pada senja yang fana.
***
Telah hilang selembar catatan tentang kata yang kerap dihindari kebanyakan penyair, cinta. Jadilah ia, seraut wajah kelam dan tenggelam seperti cahaya bulan yang termakan mendung. Berangkatlah aku ke kampus bersama kawanku, Jr. Kusempatkan waktu untuk sekadar lewat dan menolehkan pandangan kearah kosnya. Entah seperti ada rasa yang menggiringku untuk melakukan hal yang sebenarnya percuma itu.
“Sudahlah kawan, yang hilang biarlah hilang,” oceh Jr sambil menampakkan senyum bernada sindir.
“Iya aku tahu, sedari awal aku tahu.”
“Lantas apa motifmu lewat jalan ini setiap berangkat ke kampus?”
Sengaja tak kutanggapi pertanyaan yang sudah gamblang terjawab dalam komunikasi nonverbal, butuh ribuan tahun (aku) untuk melupakannya.
***
Semenjak Sri menyatakan belum mau menjalin hubungan dengan siapapun, terus kusodorkan diriku seperti sales yang belum memenuhi target penjualannya. Kuforward cerita singkat yang kudapat dari nomer tak dikenal kepada Sri, kisah tentang percintaan merpati dan mawar, pikirku ini lumayan juga. Balaslah ia :
“Maksudnya?”
“Tak ada maksud, iseng saja.”
“Sebenarnya apa yang mas rasakan padaku, bencikah? Kalau iya katakan saja, aku memang pantas mendapatkan itu.”
“Tidak Sri, sebenarnya aku masih mengharapmu Sri, setiap detik masih kudengar desah nafasmu. Bersandarlah engkau pada dermaga sepi! Dermaga yang dalam renunagannya tergambar rapat garis tanganmu. Masihkah kau ragu akanku? Tunggulah Sri, tunggulah sampai bunga-bunga ini semerbak pada musim yang tepat, masa dimana kau akan sadar bahwa akulah orang yang terbaik untukku.”
“Misalnya sekarang adalah puncak kesadaranku?” Sebuah pertanyaan dari bibirnya yang sekonyong-konyong mempercepat aliran darahku ke jantung.
“Apakah itu berarti misalnya kau menerimaku, mengizinkanku masuk dan menikmati mekar bunga dalam tamanmu?”
Luluhlah ia …
***
Ternyata bukan perkara gampang menjaga sebuah ikatan, sebuah harapan yang setengah mati kuperjuangkan tadinya. Terlampau kencang semilir yang menggoyangkan janji untuk saling menerima apa adanya. Mulai dari terbentangnya jarak dan waktu untuk kita bertemu, kurangnya toleransi akan hal-hal yang saling kita sembunyikan tadinya, sampai kepergiannya ke Jogja. Pada puncak ego masing-masing, kita memutuskan untuk berpisah. Mudah sungguh terucap kata-kata pilihan tentang jalan di persimpangan pemikiran.
Betapapun itu, sampai sekarang masih kental terasa bahwa aku pernah mempersembahkan hatiku seutuhnya pada Sri. Di puncak gunung Arjuna, kabut seolah membentuk seraut wajah yang masih kurindu. Rupanya alam pun tak rela aku berusaha melupakannya. Kembalilah aku pada hari-hari yang hambar, hari-hari di mana kusempatkan untuk melintas depan kosnya saat berangkat ke kampus yang juga hambar.
“Santai saja kawan.”
“Kau tahu Er, senyummu itu tak ada bagus-bagusnya.”
Bangkalan, 2010

2 komentar:

  1. harus ku akui aku malu dengan anda kawan, anda dapat gambarkan keindahan dunia dengan mudah.

    Selamat atas kelahiran blog ini
    www.liputanmadura.com

    BalasHapus
  2. mator sakalangkong kak gih
    :)

    BalasHapus