Kamis, 09 Juni 2011

kawan, aku rindu

-di sini adalah barisan hitam
sekali waktu jangan jadikan warna sebagai tuhanmu-
gelak bersambut selaginya meramu kata-kata mujarab tentang selangkangan dan selebihnya
-nak, dewasalah-
bukankah satu sore di punggung Arjuna yang kekar, kita adalah larik pada sajak gemetar?
tapi malam menjadi saat yang tepat untuk berbenah, membeli semua cermin di kota ini, lalu pelan melirik dalam-dalam otot yang menumbuhi lengan
-Kami akan memanggang uratnya, melalap habis pintu-pintu kamarnya sehingga tak ada lagi pembenaran yang terpasung. Kau percaya?-
Aku tak peduli
aku tetap ingin hidup sebagai puisi dan merindukan Kalian
-hidup memang banyak susah-
kemudian diam seolah aksara telah kembali tertelan
hingga benar-benar lengang warung yang setua obrolannya
Madura, 2 maret

Tidak ada komentar:

Posting Komentar